BerandaMEJA WARKOPKetika Kritik Harus Menunggu Algoritma
MEJA WARKOPWaktu baca ± 3 menit

Ketika Kritik Harus Menunggu Algoritma

Algoritma tentu bukan manusia yang duduk di belakang meja sambil memilih siapa yang boleh bicara. Ia bekerja melalui pola, data, interaksi, dan berbagai mekanisme yang dirancang untuk membuat pengguna tetap berada di dalam platform.

Ketika Kritik Harus Menunggu Algoritma

Foto: AI Generated

Kita hidup di zaman ketika hampir semua orang bisa berbicara. Ponsel di tangan sudah cukup untuk membuat seseorang menulis kritik terhadap pemerintah, merekam kejadian, membagikan informasi, atau menyampaikan pendapat kepada ribuan orang. Secara sederhana, ini terlihat seperti kemenangan besar bagi kebebasan berbicara. Tidak ada lagi yang sepenuhnya membutuhkan koran, televisi, atau mimbar untuk didengar.

Tetapi ada satu persoalan yang sering terlupakan: bisa berbicara tidak sama dengan bisa didengar. Kita dapat mengunggah apa saja, tetapi tidak semua unggahan akan sampai kepada orang lain. Ada sesuatu di antara suara kita dan perhatian publik: algoritma. Ia tidak melarang kita berbicara, tetapi menentukan seberapa besar kemungkinan orang lain melihat apa yang kita katakan.

Di sinilah bentuk kekuasaan berubah menjadi lebih halus. Dulu seseorang bisa disuruh diam. Sekarang mungkin tidak perlu. Cukup membuat suaranya tidak terlihat. Kita tetap boleh menulis kritik, tetapi unggahan itu bisa tenggelam di antara video hiburan, iklan, berita, dan konten lain yang lebih mampu mempertahankan perhatian. Kebebasan tetap ada secara formal, sementara jangkauan suara ditentukan oleh sistem yang tidak selalu kita pahami.

Algoritma tentu bukan manusia yang duduk di belakang meja sambil memilih siapa yang boleh bicara. Ia bekerja melalui pola, data, interaksi, dan berbagai mekanisme yang dirancang untuk membuat pengguna tetap berada di dalam platform. Tetapi hasil akhirnya bisa terasa politis. Konten yang mengundang kemarahan, perdebatan, atau rasa ingin tahu sering kali lebih mudah mendapatkan perhatian. Akibatnya, orang belajar bukan hanya bagaimana menyampaikan pendapat, tetapi bagaimana membuat pendapatnya layak dipromosikan oleh mesin.

Aktivisme kemudian harus belajar bahasa baru. Slogan harus singkat. Video harus memiliki pembukaan yang membuat orang berhenti menggulir. Kritik harus memiliki gambar yang menarik. Persoalan yang rumit harus disederhanakan menjadi beberapa kalimat. Tidak cukup lagi benar; kita juga harus terlihat. Tidak cukup lagi punya argumen; kita harus mampu mempertahankan perhatian selama beberapa detik.

Ini tidak selalu buruk. Media sosial memang membutuhkan bentuk komunikasi yang berbeda. Banyak isu yang justru menjadi besar karena orang biasa mampu mengemasnya dengan cara yang mudah dipahami. Masalahnya muncul ketika logika perhatian mulai mengalahkan logika kebenaran. Persoalan yang penting tetapi membosankan kalah dari persoalan yang sederhana tetapi mengundang kemarahan. Yang paling ramai belum tentu yang paling penting.

Kita akhirnya hidup dalam ekonomi perhatian. Perhatian menjadi sesuatu yang diperebutkan. Media memperebutkannya, perusahaan memperebutkannya, aktivis memperebutkannya, bahkan teman kita sendiri memperebutkannya. Setiap notifikasi seolah berkata: lihat saya. Dan karena perhatian manusia terbatas, selalu ada sesuatu yang harus kalah agar sesuatu yang lain bisa menang.

"Maka pertanyaan tentang kebebasan berbicara hari ini tidak cukup berhenti pada apakah kita diperbolehkan berbicara. Kita juga perlu bertanya siapa yang menentukan apa yang terlihat, apa yang tenggelam, dan apa yang terus muncul di hadapan kita. Sebab sebuah suara bisa saja bebas berbicara tetapi tetap tidak memiliki kesempatan untuk didengar."

Dulu kekuasaan mungkin berkata, “Diam.” Sekarang ia bisa berkata, “Silakan bicara.” Lalu membiarkan algoritma mengurus sisanya. Dan mungkin itulah bentuk kekuasaan yang paling sulit dilawan: bukan yang menutup mulut kita, melainkan yang membuat suara kita tidak pernah sampai ke telinga siapa pun.

Reaksi Warga Pembaca

Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:

Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?

Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.

Tulis Naskah
Bara Api
Penulis BELOKIRI

Bara Api

Semua Tulisan →

Menulis dengan kepala dingin dan nada yang kadang panas. Tertarik pada isu kekuasaan, kebijakan publik, gerakan mahasiswa, dan berbagai bentuk ketidakadilan yang sering dibungkus bahasa resmi. Percaya bahwa kritik tidak harus berisik untuk bisa mengganggu.

Rekomendasi Bacaan Lanjutan

Tulisan Terkait & Terkini

Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.

Rubrik MEJA WARKOP

UKT Naik, Kopi Tetap Harus Estetik

Mungkin yang perlu dipertanyakan bukan mengapa mahasiswa masih minum kopi ketika UKT naik. Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa kita merasa kehidupan harus selalu terlihat baik meskipun keadaan sebenarnya sedang tidak baik.

Agen Belokan
24 September 2026