Ketika Poster Aksi Lebih Bagus daripada Aksinya
Ada sesuatu yang menarik dari sebuah aksi mahasiswa hari ini: kadang posternya sudah selesai jauh sebelum tuntutannya benar-benar dipahami.

AI Generated
Ada sesuatu yang menarik dari sebuah aksi mahasiswa hari ini: kadang posternya sudah selesai jauh sebelum tuntutannya benar-benar dipahami. Warna sudah dipilih, jenis huruf sudah disepakati, logo organisasi sudah diletakkan di sudut yang paling strategis, dan template untuk Instagram Story sudah siap dibagikan. Tinggal satu persoalan kecil: massa belum tentu tahu kenapa mereka harus turun ke jalan. Tapi tidak apa-apa. Yang penting poster sudah bagus.
Tentu saja tidak ada yang salah dengan poster yang bagus. Aksi yang baik juga membutuhkan komunikasi yang baik. Poster membantu menjelaskan tuntutan, mengundang orang datang, dan membuat sebuah persoalan lebih mudah dikenali. Di tengah kehidupan digital, visual bahkan menjadi bahasa politik tersendiri. Orang yang tidak datang ke lokasi aksi masih bisa mengetahui apa yang sedang diperjuangkan melalui layar ponselnya. Persoalannya bukan pada desain. Persoalannya muncul ketika desain mulai menjadi bagian yang paling serius dari sebuah perjuangan.
Kita hidup dalam zaman ketika sebuah gerakan tidak cukup hanya punya tuntutan. Ia juga harus punya identitas visual. Harus mudah dikenali, mudah dibagikan, dan kalau bisa cukup menarik untuk membuat orang berhenti menggulir layar. Aksi kemudian tidak hanya berlangsung di jalan, tetapi juga di feed. Poster menjadi pintu masuk, dokumentasi menjadi bukti kehadiran, dan caption menjadi semacam risalah singkat tentang apa yang sedang diperjuangkan. Kadang-kadang, orang yang tidak tahu isi tuntutannya justru lebih hafal desain posternya.
Di sinilah aktivisme mulai berhadapan dengan sesuatu yang agak rumit: kebutuhan untuk terlihat. Sebuah aksi yang tidak terdokumentasi terasa seperti belum pernah terjadi. Foto kerumunan dibutuhkan untuk menunjukkan kekuatan. Foto orator dibutuhkan untuk menunjukkan keberanian. Foto spanduk dibutuhkan untuk menunjukkan tuntutan. Semuanya masuk akal. Tetapi perlahan ukuran keberhasilan mulai bergeser. Kita tidak hanya bertanya, “Apa yang berubah setelah aksi ini?” Kita juga mulai bertanya, “Berapa banyak yang melihat unggahannya?”
Algoritma tentu tidak peduli apakah sebuah tuntutan benar atau salah. Ia hanya mengenali perhatian. Poster dengan desain yang menarik lebih mudah dihentikan oleh mata. Kalimat yang pendek lebih mudah dibaca. Foto yang dramatis lebih mudah dibagikan. Akibatnya, persoalan yang sebenarnya rumit harus dipadatkan menjadi beberapa kata yang muat dalam satu layar. Perjuangan pun belajar mengikuti selera platform: harus cepat, jelas, menarik, dan kalau bisa sedikit emosional.
Masalahnya, politik tidak selalu sesederhana desain poster. Ada persoalan yang membutuhkan waktu untuk dijelaskan. Ada kebijakan yang tidak bisa diselesaikan dengan satu slogan. Ada ketidakadilan yang tidak akan selesai hanya karena ribuan orang menekan tombol suka. Di sinilah sebuah gerakan diuji: apakah ia mampu bertahan setelah kamera dimatikan dan perhatian publik berpindah kepada isu lain.
Kita juga perlu jujur bahwa ini bukan semata-mata kesalahan aktivis. Hampir semua orang sekarang hidup dalam budaya tampilan. Kita memotret makanan sebelum memakannya, memotret perjalanan sebelum menikmatinya, dan kadang memotret kepedulian sebelum benar-benar memahami persoalannya. Aktivis hanya mengalami tekanan yang sama dalam bentuk yang lebih politis. Kita semua ingin sesuatu yang kita lakukan terlihat berarti.
Mungkin karena itu pertanyaannya bukan apakah poster perlu dibuat bagus. Tentu saja perlu. Pertanyaannya adalah :
apa yang terjadi setelah poster itu selesai. Apakah ia membawa orang memahami persoalan, atau hanya membawa mereka ke halaman Instagram organisasi? Apakah kamera menjadi alat dokumentasi, atau justru alasan utama kita memastikan aksi tetap berlangsung?
Sebab sebuah aksi pada akhirnya tidak dinilai dari seberapa bagus desainnya. Ia dinilai dari apa yang berubah setelahnya. Poster boleh keren, foto boleh tajam, caption boleh panjang. Tetapi kalau setelah semua itu tidak ada yang berubah, mungkin kita perlu mengakui satu hal yang agak menyebalkan: aksinya gagal, tetapi feed Instagram kita sangat berhasil.
Reaksi Warga Pembaca
Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:
Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?
Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.
Agen Belokan
Administrator Utama BELOKIRI. Memegang kendali penuh atas manajemen konten, kurasi naskah, dan tata kelola platform.
Tulisan Terkait & Terkini
Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.
Republik Salah Ucap: Ketika Negara Terlalu Sering Ngomong Duluan
Negara hari ini terasa seperti admin media sosial yang terlalu aktif membalas komentar. Sedikit kritik dibalas. Sedikit keresahan dijelaskan dengan jargon.
Mahasiswa, Negara, dan Seni Paling Mutakhir: "Tidak Peduli"
Masalahnya mungkin bukan mahasiswa tidak punya kepedulian, melainkan kita mulai terbiasa mengukur kepedulian berdasarkan manfaat pribadi.
Instagram Story: Tempat Terakhir Ideologi Bertahan
Media sosial memang telah mengubah cara orang berpolitik. Dulu, orang harus berkumpul di ruang-ruang diskusi, membawa buku, mencatat, berdebat, dan kadang pulang larut malam karena pembicaraan tidak kunjung selesai. Sekarang, sebagian percakapan itu cukup dilakukan melalui layar enam inci.


