Orang-orang yang Pulang Terakhir dari Sekretariat
Ada ironi yang begitu indah dan menyakitkan sekaligus saat melihat mereka. Di siang hari, mereka adalah mahasiswa yang mungkin mengantuk di kelas Statistik

Jam dinding sekretariat sudah menunjuk pukul setengah dua pagi. Jarum pendeknya bergerak dengan malas, seolah menertawakan kita yang masih terjaga, bergulat dengan selebaran aksi dan surat pemberitahuan keramaian yang tak kunjung usai. Di luar jendela, kampus sudah mati suri, diterangi cahaya bulan yang sekenanya saja, sementara di dalam, aroma kental kopi sachet bercampur dengan asap rokok tak bermaterai cukai menciptakan atmosfer yang sangat khas: bau perlawanan yang terlalu cuek dengan kesehatan paru-paru.
Mereka; pentolan-pentolan kampus ini, adalah spesies yang sedang punah. Di era di mana rekan-rekan seangkatannya sibuk merapikan CV untuk melamar magang di perusahaan multinasional atau sibuk memoles wajah untuk menjadi admin medsos yang patuh pada algoritma, orang-orang ini masih bertahan. Mereka adalah orang-orang yang pulang terakhir dari sekretariat, bukan karena tidak punya rumah, tapi karena rumah ideologis mereka terletak di ruangan sempit berposter Che Guevara atau Tan Malaka itu, atau apapun simbol yang sedang mereka sakralkan minggu ini.
Ada ironi yang begitu indah dan menyakitkan sekaligus saat melihat mereka. Di siang hari, mereka adalah mahasiswa yang mungkin mengantuk di kelas Statistik, tapi menjelang malam, mereka berubah menjadi para birokrat revolusioner yang sibuk berdebat soal teori Gramsci sambil menebak-nebak apakah uang kas masih cukup untuk membeli gorengan buat rapat pleno malam ini.
Keteguhan mereka untuk tetap "membasis", jargon yang jika diartikan ke bahasa sehari-hari berarti "pergi ke tempat yang jauh, becek, dan tidak ada Wi-Fi-nya untuk menemui warga", adalah bentuk romantisisme masa kini yang paling ekstrem. Bayangkan, di saat anak-anak muda lainnya sedang swafoto di kafe aesthetic dengan latte art seharga dua puluh ribu rupiah, para aktivis ini masih berteduh di bawah payung box penjual minuman pinggiran jalan, mendengarkan keluhan kawan sejawat, atau adik tingkat yang curhat tentang chat mesum dosen pembimbingnya, atau kabar perampasan lahan masyarakat pedesaan, atau kabar penggusuran nelayan di pinggiran kota.
Mereka melakukan itu semua dengan senyum yang agak pucat karena kurang tidur, namun dengan mata yang berbinar karena merasa menjadi bagian dari sejarah, walau sejarah itu kadang hanya seukuran berita halaman tiga di koran lokal.
Tapi, jangan salah. Orang-orang yang pulang terakhir ini bukan sekadar romantis yang tersesat dalam dongeng-dongeng kiri 1965-an. Mereka adalah realis yang menderita. Mereka tahu bahwa dunia luar sedang menertawakan idealisme mereka. Mereka tahu bahwa ibu mereka di rumah mungkin sedang menangis karena anaknya lulus kuliah tapi tidak segera menjadi PNS atau BUMN. Namun, mereka tetap duduk di sana, di kursi plastik yang sudah mulai reyot, mengetik rilis pers dengan nada berapi-api dan diksi yang terlalu tinggi untuk dibaca oleh orang awam.
Keberadaan mereka adalah satir hidup bagi kemapanan. Saat dunia berlari menuju pragmatisme, mereka memilih berjalan pelan dengan toak di tangan, sambil sesekali menyindir kebijakan kampus yang feodal atau harga nasi uduk yang kian tak masuk akal di kantin belakang fakultas. Mereka adalah komedian tragis yang melawak tentang ketidakadilan, tapi tawa mereka tertahan di tenggorokan.
Mengapa mereka masih bertahan? Mungkin karena candu. Bukan candu zat aditif, tapi candu rasanya ketika orasi di atas mokom, mereka membuat massa bersorak, atau ketika advokasi, mereka membuat satu keluarga bisa tetap tinggal di rumahnya. Atau mungkin juga karena sekretariat adalah satu-satunya tempat di mana mereka bisa menjadi "dosen" bagi dirinya sendiri, tanpa perlu berlarian dengan deadline ujian skripsi.
Pada akhirnya, saat matahari mulai mencuat dari balik gedung fakultas, dan lampu sekretariat dimatikan, barulah mereka beranjak pergi. Mereka pulang bukan karena kalah, tapi untuk tidur sebentar, agar besok bisa kembali bergelut dengan realitas.
Orang-orang yang pulang terakhir dari sekretariat adalah bukti bahwa di tengah serbuan konten digital dan kebijakan neo-liberal di kampus, masih ada manusia-manusia yang cukup gila untuk percaya bahwa tangan mereka bisa mengubah dunia, setumpuk selebaran aksi, selembar spanduk dan satu gelas kopi instan pada satu waktu. Mereka lelah, mereka kumuh, mereka mungkin gagal dalam mata kuliah Metodologi Penelitian, tapi mereka pulang dengan kepala tegak, membawa beban impian banyak orang yang ditanggung di bahu yang kian kurus itu.
Dan besok malam, kita bisa memastikan satu hal: Lampu sekretariat itu akan menyala lagi. Untuk mereka. Untuk kita. Untuk semua orang gila yang menolak pulang sebelum pertarungan usai.
Reaksi Warga Pembaca
Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:
Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?
Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.
IDAM BHASKARA
Seorang pengangguran, suka ngopi, suka menulis dan suka kamu!
Tulisan Terkait & Terkini
Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.
Republik Salah Ucap: Ketika Negara Terlalu Sering Ngomong Duluan
Negara hari ini terasa seperti admin media sosial yang terlalu aktif membalas komentar. Sedikit kritik dibalas. Sedikit keresahan dijelaskan dengan jargon.
Mahasiswa, Negara, dan Seni Paling Mutakhir: "Tidak Peduli"
Masalahnya mungkin bukan mahasiswa tidak punya kepedulian, melainkan kita mulai terbiasa mengukur kepedulian berdasarkan manfaat pribadi.
Instagram Story: Tempat Terakhir Ideologi Bertahan
Media sosial memang telah mengubah cara orang berpolitik. Dulu, orang harus berkumpul di ruang-ruang diskusi, membawa buku, mencatat, berdebat, dan kadang pulang larut malam karena pembicaraan tidak kunjung selesai. Sekarang, sebagian percakapan itu cukup dilakukan melalui layar enam inci.


