Belajar dari Engels dan Mary: Tentang Cinta dan Kesetaraan
Bagi Engels, Mary bukan sekadar kekasih. Mary adalah "pemandu jalan" yang membuka matanya terhadap realitas pahit dunia kapitalisme.

Ketika kita mendengar nama Friedrich Engels, hal pertama yang terlintas di kepala sering kali adalah bayang-bayang Karl Marx, teori-teori ekonomi yang rumit, atau manifesto politik yang bahkan masih menjadi momok bagi brojuis sampai hari ini.
Namun, di balik jubah intelektualnya yang kaku, Engels menghidupkan salah satu kisah cinta paling radikal, mendalam, dan mendahului zamannya. Kisah cintanya dengan Mary Burns, seorang buruh pabrik tekstil imigran asal Irlandia, bukan sekadar romansa biasa. Hubungan mereka adalah cerminan nyata dari apa yang mereka perjuangkan: kritik terhadap kemapanan kelas dan manifesto hidup tentang arti kesetaraan yang sesungguhnya.
Cinta yang Mendobrak Sekat Kelas
Engels lahir dari keluarga borjuis Jerman yang kaya raya. Ayahnya adalah pemilik pabrik tekstil sukses di Manchester, Inggris. Berdasarkan naskah takdir masyarakat abad ke-19, Engels seharusnya menikahi wanita dari kelas sosial yang setara, seorang putri pengusaha atau bangsawan untuk melanggengkan kekayaan keluarga.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Mary Burns. Mary adalah kebalikan total dari dunia Engels. Ia adalah seorang perempuan miskin, buta huruf, dan bekerja sebagai buruh di pabrik milik keluarga Engels sendiri. Di mata masyarakat Victorian kala itu, hubungan mereka adalah skandal besar.
Bagi Engels, Mary bukan sekadar kekasih. Mary adalah "pemandu jalan" yang membuka matanya terhadap realitas pahit dunia kapitalisme. Mary mengajak Engels masuk ke gang-gang kumuh Manchester, memperlihatkan bagaimana para buruh hidup berhimpitan, kelaparan, dan dieksploitasi. Dari petualangan realitas bersama Mary inilah Engels mampu menulis mahakaryanya, The Condition of the Working Class in England (1845). Tanpa Mary Burns, Engels mungkin hanya akan menjadi pemuda kaya yang berteori di atas menara gading. Di sini kita belajar bahwa cinta yang setara adalah cinta yang saling membuka mata, bukan yang saling menidurkan kesadaran.
Menolak "Kontrak Kertas" demi Kebebasan
Salah satu aspek paling radikal dari hubungan Engels dan Mary Burns adalah keputusan mereka untuk tidak pernah menikah secara resmi. Mereka hidup bersama selama dua dekade hingga kematian memisahkan mereka.
Bagi Engels, institusi pernikahan formal di era kapitalisme borjuis tak lebih dari sekadar transaksi bisnis dan alat kontrol ekonomi. Dalam bukunya yang terkenal di kemudian hari, The Origin of the Family, Private Property and the State, Engels mengkritik bahwa pernikahan borjuis sering kali memaksa perempuan menjadi kepemilikan pribadi pria, di mana cinta dikalahkan oleh urusan warisan harta.
Engels dan Mary memilih jalan lain. Mereka memilih untuk berkomitmen atas dasar cinta murni dan rasa hormat yang setara, tanpa membutuhkan validasi dari hukum negara atau gereja yang saat itu timpang gender. Hubungan mereka membuktikan bahwa fondasi terkuat dari sebuah kemitraan hidup bukanlah selembar kertas kontrak, melainkan komitmen moral dan kesetaraan posisi antara kedua belah pihak.
Kesetaraan di Luar Panggung Publik
Dalam hubungan ini, Engels yang berpendidikan tinggi tidak pernah memosisikan dirinya lebih tinggi atau bertindak sebagai penguasa atas Mary yang buta huruf. Mereka membagi peran hidup dengan saling menghargai. Mary memberikan kompas moral dan realitas sosial kepada Engels, sementara Engels memberikan ruang bagi Mary untuk menjadi dirinya sendiri tanpa tuntutan untuk bertingkah laku layaknya wanita kelas atas yang penuh kepura-puraan.
Ketika Mary Burns meninggal mendadak pada tahun 1863, Engels mengalami patah hati yang teramat dalam. Dalam suratnya kepada Marx, Engels menuliskan betapa ia merasa kehilangan separuh dari jiwanya. Rasa duka yang mendalam itu menunjukkan bahwa Mary bukan sekadar pelengkap hidup, melainkan pilar utama dalam warisan emosional Engels.
Kelanjutan Komitmen Bersama Lizzie Burns
Ketika Mary Burns meninggal mendadak pada usia 41 tahun akibat penyakit jantung, Engels mengalami patah hati yang teramat dalam. Di tengah kedukaan itu, ia kemudian menemukan sandaran baru pada diri Lydia "Lizzie" Burns, adik kandung Mary yang selama ini tinggal bersama mereka.
Sama seperti Mary, Lizzie adalah wanita kelas pekerja yang buta huruf, mandiri, dan berjiwa pemberontak. Bersama Lizzie, Engels melanjutkan kehidupan domestik mereka dengan prinsip yang sama: hidup bersama dalam "cinta bebas" tanpa belenggu pernikahan borjuis. Lizzie memberikan stabilitas emosional yang luar biasa bagi Engels saat ia harus bolak-balik mengurusi riset Marx dan gerakan buruh internasional.
Namun, bukti tertinggi dari cinta dan rasa hormat Engels kepada Lizzie ditunjukkan menjelang akhir hayat wanita tersebut pada tahun 1878. Ketika Lizzie jatuh sakit parah dan berada di ambang kematian, Engels memilih untuk melanggar prinsip anti-pernikahannya sendiri. Mengetahui bahwa Lizzie memiliki keyakinan religius yang mendalam dan mendambakan pernikahan yang sah di mata Tuhan, Engels resmi menikahinya di atas tempat tidur perawatan. Pernikahan itu hanya bertahan hitungan jam sebelum Lizzie mengembuskan napas terakhirnya. Pengorbanan ego intelektual Engels demi kedamaian batin Lizzie membuktikan betapa ia sangat menghargai kebahagiaan pasangannya melebihi teorinya sendiri.
Refleksi untuk Hubungan Modern
Di zaman modern ini, ketika hubungan sering kali diukur dari status sosial, estetika media sosial, atau kecocokan finansial, kisah Engels bersama Burns bersaudara memberikan tamparan sekaligus refleksi yang hangat.
Belajar dari Engels, Mary, dan Lizzie, kita diajak untuk melihat kembali esensi dari sebuah hubungan. Kesetaraan bukan berarti dua orang harus memiliki latar belakang atau tingkat pendidikan yang persis sama, melainkan kerelaan untuk saling mendengarkan, saling melindungi ego masing-masing, dan berjuang bersama. Hubungan mereka mengajarkan bahwa romansa terbaik adalah ketika dua manusia berkomitmen untuk tidak sekadar saling memandang, melainkan bersama-sama bergerak menciptakan ruang hidup yang adil bagi satu sama lain.
Hubungan mereka mengajarkan bahwa romansa terbaik adalah ketika dua orang tidak hanya saling memandang satu sama lain, tetapi bersama-sama memandang ke arah luar, menuju dunia yang lebih adil dan setara.
Reaksi Warga Pembaca
Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:
Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?
Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.

Friska Aulia
Seorang mahasiswi semester akhir yang sedang berusaha menyelesaikan perjalanan akademik. Di tengah kesibukan kuliah, tugas akhir, dan berbagai dinamika kehidupan kampus, saya mulai melihat banyak hal dari sudut pandang yang lebih kritis. Ketertarikan pada isu sosial, kehidupan mahasiswa, dan persoalan masyarakat kadang saya tuangkan menjadi tulisan yang ringan dan sedikit akademis, atau kadang-kadang liar.
Menyukai Tulisan Ini? Dukung BELOKIRI Tetap Mengudara
Ruang bicara independen butuh amunisi agar tetap bebas dari sensor kekuasaan dan iklan clickbait. Sisihkan sedikit apresiasi untuk dapur redaksi.
Tulisan Terkait & Terkini
Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.
Bayang-bayang Stigma di Balik Meja Warkop dan Perempuan yang Ngopi di Atasnya
Nongkrong sendiri telah menjelma sebagai common culture yang seiring berjalannya waktu terus terperbaharui, entah dalam hal tempat atau isian agenda nongkrongnya. Budaya nongkrong juga dianggap sebagai sesuatu yang bahkan bisa menyembuhkan jiwa.
Gestok: Ketika Sejarah Punya Nama yang Berbeda-beda
Selama Orde Baru, satu versi sejarah kemudian memperoleh tempat yang jauh lebih kuat daripada versi lainnya. G30S/PKI diceritakan sebagai pemberontakan komunis terhadap negara, sementara Soeharto tampil sebagai tokoh yang menyelamatkan republik dari ancaman tersebut.
Bakunin, Sekret, dan Budaya Senioritas yang Tak Kunjung Mati
Kaderisasi seharusnya menghasilkan manusia yang mampu berpikir sendiri, bukan generasi baru yang semakin mahir menghafal perintah generasi sebelumnya.


