BerandaMEJA WARKOPSecangkir Kopi Susu dan Revolusi yang Tertunda
MEJA WARKOPWaktu baca ± 4 menit

Secangkir Kopi Susu dan Revolusi yang Tertunda

Mahasiswa masih berkumpul, diskusi masih berlangsung. Tetapi sekarang semuanya lebih estetik; Meja kayu industrial, lampu remang redup, playlist jazz lo-fi diselingi lagu “buruh-tani”, dan seseorang di sudut ruangan sedang berkata:

Secangkir Kopi Susu dan Revolusi yang Tertunda

Ada masa ketika kopi identik dengan begadang menyusun pamflet, rapat organisasi yang terlalu panjang, dan asbak penuh puntung rokok di sekretariat kampus yang cat temboknya mulai mengelupas. Hari ini kopi datang dengan tasting notes. Ada aroma citrus, caramel, floral, dan sedikit rasa cemas tentang masa depan.

Mahasiswa masih berkumpul, diskusi masih berlangsung. Tetapi sekarang semuanya lebih estetik; Meja kayu industrial, lampu remang redup, playlist jazz lo-fi diselingi lagu “buruh-tani”, dan seseorang di sudut ruangan sedang berkata: “kapitalisme itu momok bagi kehidupan manusia” sebelum memotret kopi susu seharga 10.000 an untuk Instagram Story.

Budaya ngopi mahasiswa hari ini memang menarik. Ia seperti persimpangan aneh antara kebutuhan intelektual, gaya hidup urban, dan keinginan untuk tetap terlihat “punya keresahan”. Kedai kopi menjadi ruang sosial baru: tempat orang membaca, mengerjakan tugas, flirting politik, membangun kolektif, merancang acara seni, sampai pura-pura sibuk membuka laptop selama tiga jam hanya demi akses colokan dan WiFi gratisan.

Di Majene sendiri, coffee shop perlahan menggantikan sekretariat organisasi. Tempat yang dulu penuh poster tokoh-tokoh filsuf, kini diganti ruangan estetik dengan hiasan dinding kata-kata bijak tentang kopi dan senja.

Tapi, hal demikian mungkin tidak sepenuhnya buruk. Karena sejarah peradaban memang selalu dekat dengan kopi. Dari kafe-kafe Eropa tempat filsuf berdebat sampai warung kopi pinggir jalan tempat mahasiswa Indonesia membicarakan negara sambil patungan rokok, kopi selalu punya hubungan intim dengan percakapan. Ia menciptakan ruang jeda dari rutinitas. Tempat orang merasa dunia bisa dibicarakan ulang.

Masalahnya, kapitalisme juga tahu itu. Maka kopi tidak lagi sekadar minuman. Ia berubah menjadi identitas sosial. Orang tidak hanya membeli rasa, tetapi juga citra diri. Kita memesan latte sekaligus membeli kesan: intelektual, santai, kreatif, urban, sedikit kiri, tetapi tetap marketable.

Akibatnya, kritik sosial hari ini sering terasa seperti bagian dari interior coffee shop.

Ada mahasiswa yang membaca Karl Marx sambil duduk di kursi minimalis Scandinavian. Ada yang membahas Antonio Gramsci sambil menunggu promo buy one get one. Ada pula yang bicara soal eksploitasi buruh melalui podcast dengan sponsor aplikasi finansial.

Semuanya terasa ironis, tetapi juga sangat normal. Kampus modern melahirkan generasi yang kritis sekaligus sangat sadar visual.

Aktivisme tidak lagi hanya bergerak lewat demonstrasi atau mimbar bebas, tetapi juga lewat feed Instagram, desain poster, video esai, dan carousel edukasi. Mahasiswa hari ini tumbuh di dunia ketika opini harus cukup tajam untuk terdengar, tetapi juga cukup menarik untuk dibagikan.

Karena itu budaya ngopi menjadi penting dalam ekosistem aktivisme baru. Kedai kopi menyediakan ruang aman untuk terlihat intelektual tanpa harus benar-benar mengambil risiko politik yang terlalu besar. Orang bisa tampak progresif hanya dengan menggunakan tote bag bertuliskan “eat the rich” sambil membuka MacBook.

Di titik tertentu, aktivisme berubah menjadi atmosfer. Bukan lagi gerakan yang mengubah keadaan, tetapi identitas yang nyaman dikenakan. Seperti playlist indie atau sepatu converse lusuh, kritik sosial menjadi bagian dari estetika anak muda urban.

Kita bisa melihatnya dengan jelas di sekitar kampus. Diskusi publik semakin ramai, tetapi organisasi semakin sepi. Semua orang ingin terlihat sadar isu, tetapi sedikit yang tahan membaca dokumen panjang. Banyak yang fasih membuat utas tentang ketidakadilan, tetapi kesulitan hadir tepat waktu dalam rapat advokasi.

Namun tentu saja menyalahkan mahasiswa semata terlalu mudah. Dunia memang berubah. Aktivisme hari ini hidup berdampingan dengan algoritma. Keresahan dan narasi-narasi protes harus bersaing dengan konten skincare, video kucing, dan promo flash sale. Dalam situasi seperti itu, coffee shop menjadi semacam ruang kompromi: tempat politik bisa tetap hidup meski dalam bentuk yang lebih santai, lebih cair, lebih pop.

Dan mungkin memang generasi ini sedang mencari bentuk perlawanannya sendiri. Mereka tidak selalu turun ke jalan, tetapi berusaha menerbitkan zine. Tidak selalu pidato, tetapi membuat video esai kritisnya. Tidak selalu membakar ban, tetapi membangun ruang diskusi kecil di sudut kampus.

Kadang itu terlihat dangkal. Kadang memang dangkal. Tetapi tidak semua percakapan harus langsung menjadi revolusi agar punya arti.

Meski begitu, ada satu hal yang tetap perlu diwaspadai: kapitalisme sangat pandai menjual kembali semua hal, termasuk perlawanan. Ia bisa mengubah kritik menjadi merchandise, keresahan menjadi branding, bahkan aktivisme menjadi dekorasi interior linimasa media sosial kita. Yang selanjutnya mereduksi pergolakan perlawanan menjadi hanya sebatas momentuman semata.

Karena itu pertanyaan pentingnya bukan lagi, “apakah mahasiswa masih kritis?” Tetapi,

apakah kritik itu masih mampu mengganggu sesuatu selain engagement media sosial?

Sebab ada perbedaan besar antara diskusi yang membuat orang berpikir dan diskusi yang hanya membuat feed terlihat lebih intelektual.

Dan mungkin di situlah secangkir kopi menemukan tragedinya sendiri: ia awalnya diciptakan untuk membantu orang tetap terjaga, tetapi sekarang kadang hanya membantu mereka tetap nyaman.

Reaksi Warga Pembaca

Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:

Total Reaksi: 1

Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?

Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.

Tulis Naskah
Idam Bhaskara
Penulis BELOKIRI

Idam Bhaskara

Semua Tulisan →

Seorang pengangguran, suka ngopi, suka menulis dan suka kamu!

Rekomendasi Bacaan Lanjutan

Tulisan Terkait & Terkini

Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.

Rubrik MEJA WARKOP

Tongkrongan adalah Basis Massa Terakhir

Tongkrongan adalah inkubator gagasan kritis yang paling demokratis. Tidak ada hierarki di sini. Senior tidak bisa sok jagoan jika logikanya runtuh, junior berani melantang jika data yang ia bawa valid. Diskusi tentang teori negara bisa bertransisi halus ke debat kusir soal mana gorengan yang paling

Idam Bhaskara
28 September 2026

Diskusi Belum Selesai, Kafe Sudah Tutup

Diskusi belum selesai, kafe sudah tutup. Kalimat yang mungkin akan lebih jujur untuk menggambarkan kultur gerakan mahasiswa hari ini. Karena terus terang saja: kita hidup di zaman ketika aktivisme dan nongkrong mulai saling memposisikan.

Idam Bhaskara
25 September 2026