BerandaMEJA WARKOPTongkrongan adalah Basis Massa Terakhir
MEJA WARKOPWaktu baca ± 4 menit

Tongkrongan adalah Basis Massa Terakhir

Tongkrongan adalah inkubator gagasan kritis yang paling demokratis. Tidak ada hierarki di sini. Senior tidak bisa sok jagoan jika logikanya runtuh, junior berani melantang jika data yang ia bawa valid. Diskusi tentang teori negara bisa bertransisi halus ke debat kusir soal mana gorengan yang paling

Tongkrongan adalah Basis Massa Terakhir

Mahasiswa atau pentolan kampus lagi nongkrong

Foto: AI Generated

Ada ironi yang hampir sakral saat kita melihat fenomena mahasiswa hari ini: mereka adalah generasi yang paling keras mengritik kapitalisme dan ketimpangan, namun di saat yang sama, menjadi konsumen paling setia dari produk minuman susu kekinian dengan harga yang setara dengan sepuluh ribu rupiah pada tahun dua ribu silam. Tapi, mari kita singkirkan dulu hipokrisi harga jual kopi itu dan fokus pada satu hal: di mana tempat segala sesuatu terjadi? Bukan di aula serbaguna yang kaku, dan pasti bukan di ruang kuliah yang dingin dan penuh dengan hiruk pikuk. Segala sesuatu terjadi di warung kaki lima, di teras kafe murahan, atau di sudut sekretariat yang berasap tebal. Ya, tongkrongan.

Dalam kamus sosiologi gelap mahasiswa, tongkrongan bukan sekadar aktivitas mengisi perut kosong atau memuaskan kecanduan kafein. Ia adalah, jika boleh kita meminjam istilah yang terdengar berat, "bentuk primitif dari konsolidasi massa". Di sinilah spektrum baru pergerakan mahasiswa mulai digarisbawahi.

Lihatlah bagaimana dinamika itu berlangsung. Sebatung rokok dihidupkan, bukan sebagai simbol kenikmatan, tapi sebagai penanda waktu dimulainya sidang pleno paripurna non-formal. Di atas meja kayu yang belepotan tumpahan kopi, lahirlah wacana-wacana liar yang tidak akan pernah masuk ke silabus mata kuliah apapun. Di sinilah dosen-doktrin dikritik habis-habisan, di sinilah kebijakan kampus yang feodal dibongkar pakai analisis semi-serius yang bercampur dengan gosip kosong.

Tongkrongan adalah inkubator gagasan kritis yang paling demokratis. Tidak ada hierarki di sini. Senior tidak bisa sok jagoan jika logikanya runtuh, junior berani melantang jika data yang ia bawa valid. Diskusi tentang teori negara bisa bertransisi halus ke debat kusir soal mana gorengan yang paling enak, tanpa merusak narasi perlawanannya. Inilah estetika pergerakan hari ini: tidak lagi serius kaku seperti era 90-an yang penuh dengan kemeja kotak-kotak dan sorban, tapi lebih santai, lebih fluid, dengan pakaian lusina dan rambut yang belum keramas.

"Namun, di balik romantisasi "tongkrongan sebagai basis perlawanan", kita harus berhenti sejenak dan menertawakan diri sendiri di depan cermin."

Ada potensi reduksi yang sangat mengerikan di sini. Terlalu sering, "ngopi" dan "nongkrong" yang mulanya dimaksudkan sebagai pra-kondisi—sebagai pemanasan otak sebelum turun ke jalan—justru berubah menjadi tujuan utama. Kita sering terjebak dalam ilusi produktivitas. Kita merasa sudah melakukan sesuatu yang besar hanya karena sudah berdebat panjang lebar tentang neoliberalisme selama tiga jam, padahal satu-satunya hal yang tercapai adalah abu rokok yang menumpuk di asbak dan pemilik warung yang kebingungan karena kita pesan air putih terus.

Budaya nongkrong berpotensi melahirkan "Armchair Revolutionaries"—para revolusioner kursi goyang—yang hebat dalam merancang strategi di atas kertas serviette, tapi ciut saat melihat petugas keamanan kampus lewat. Diskusi yang seharusnya menjadi pemicu aksi, seringkali berhenti sebagai konsumsi intelektual semata. Kita menelan informasi, memuntahkannya dalam bentuk candaan sarkastik, lalu pulang ke kost dan tidur nyenyak dengan rasa puas yang palsu seolah-olah kita sudah menyelamatkan dunia.

Itulah paradoks mahasiswa hari ini. Tongkrongan adalah ruang kosong yang bisa diisi dua hal: revolusi atau kemalasan.

Jika kita benar-benar menganggap serius tongkrongan sebagai basis massa terakhir, maka tugas kita bukan lagi sekadar hadir dan memesan "kopi susu gula aren sedang". Tugas kita adalah menerjemahkan asap rokok dan candaan itu menjadi energi kinetik. Konsolidasi nonformal di warung kopi itu harus berujung pada gerakan nyata, bukan sekadar menjadi catatan di WhatsApp Group yang bernuansa penuh protes tapi nol aksi.

Jadi, lain kali jika kamu melihat sekelompok mahasiswa nongkrong hingga larut malam, tertawa terbahak-bahak sambil sesekali terdengar membicarakan "krisis agraria" atau "biaya kuliah", jangan remehkan mereka. Mereka sedang meracuni diri mereka sendiri dengan kafein dan ide-ide subversif. Tapi, waspadalah juga. Bisa jadi mereka itu sedang hanya menunggu lagu di playlist Spotify berubah sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang dan tidur.

Tongkrongan adalah basis, ya. Tapi jangan sampai basis itu hanya jadi monumen kemalasan kita. Mari jadikan asap rokok itu sebagai sinyal asap perang, bukan sekadar tanda bahwa kita sedang bosan.

Reaksi Warga Pembaca

Bagaimana kesan naskah ini menurutmu? Pilih reaksi paling mewakili:

Total Reaksi: 2

Punya Sudut Pandang Berbeda atau Narasi Tandingan?

Jangan cuma diam. Tuliskan analisis atau opinimu di Meja Warga Belokan.

Tulis Naskah
Idam Bhaskara
Penulis BELOKIRI

Idam Bhaskara

Semua Tulisan →

Seorang pengangguran, suka ngopi, suka menulis dan suka kamu!

Rekomendasi Bacaan Lanjutan

Tulisan Terkait & Terkini

Lanjut membaca esai, analisis warkop, dan perspektif kritis lainnya di BELOKIRI.

Rubrik MEJA WARKOP

Diskusi Belum Selesai, Kafe Sudah Tutup

Diskusi belum selesai, kafe sudah tutup. Kalimat yang mungkin akan lebih jujur untuk menggambarkan kultur gerakan mahasiswa hari ini. Karena terus terang saja: kita hidup di zaman ketika aktivisme dan nongkrong mulai saling memposisikan.

Idam Bhaskara
25 September 2026